Artikel Terbaru

Pandangan Karl Marx Tentang Karya Sastra

Pandangan Karl Marx Tentang Karya Sastra: Karya sastra merupakan pencerminan masyarakat. Melalui karya satra pengarang dapat menuangkan problem hidupnya, kadang kala pengarang ikut terlibat dalam karya satra tersebut. Masyarakat memiliki peran penting dalam perkembangan karya sastra karena masyarakat sering sekali menentukan nilai karya sastra yang hidup disuatu zaman, sedangakan sastrawan merupakan anggota masyarakat yang terikat status social tertentu dan tidak dapat mengelak kalau lingkungan sangat berperan penting membesarkannya ( Mbahnur: 2010). Pemikiran Marx bersandar pada kekuatan manusia semata-mata sebagai pengondisi kehidupan yang kemudian harus menaati usaha-usaha bersama atas dasar kepunyaan bersama (Masnur, 2003:7—8).
Karya sastra adalah hasil pengejawatahan seorang pengarang atas reaksi sosial yang terjadi disekelilingnya, baik yang memiliki hubungan sebab akibat langsung terhadap dirinya maupun yang terjadi diluar dirinya dan dituangkan dalam media yang dikehendakinya pula. Begitu pula dengan ide dan gagasan pengarang, ia lahir dari kondisi sosial yang dialami oleh pengarang itu sendiri, maka dari itu karya sastra yang dibuat seorang pengarang tentunya harus bersandar dan mencerminkan pada kenyataan sosial pada saat karya itu dibuat, jika karya tersebut lahir dalam kondisi sosial yang baik maka karya sastra yang dihasilkannnya akan baik pula, dan jika karya sastra tersebut lahir dalam kondisi sosial yang buruk maka karya sastra yang lahir akan buruk pula.
Sebuah karya sastra juga memiliki peran yang penting dalam masyarakat, selain merupakan refleksi dari kondisi sosial masyarakat, karya sastra juga memiliki kemampuan subversi untuk menggugah perasaan orang lain untuk berpikir tentang kehidupan dan permasalahnya. Misalnya ditengah hiruk pikuk politik dan ekonomi sekarang ini seorang pengarang dituntut untuk mengambil peran sebagai salah satu media yang menyuarakan bentuk-bentuk ketidakadilan penguasa lewat karya-karyanya, contohnya menggugat lewat puisi, pementasan teater, musik balada jalanan, membuat cerpen yang berisi penderitaan-penderitaan batin dan ekonomi, aksi grafiti anti neoliberalisme dan lain-lain.
Secara definitif karya sastra, tentu tidak mengabaikan ilmu-ilmu yang lain sebagai acuan untuk menuntaskan setiap pokok permasalahan rakyat. Salah satunya marxisme atau paham yang mendasar tentang perbenturan antara klas borjuis dan proletariat. Paham ini berasumsi bahwa karya sastra pada setiap zaman merupakan ideologi yang dibentuk atau akibat dari struktur dan perjuangan kelas zamannya. Dengan demikian, sejarah dipandang sebagai suatu perkembangan terus-menerus.
Berdasarkan perkembangannya karya sastra dipandang sebagai media untuk tujuan-tujuan yang pragmatis. Misalnya, sastra untuk sosialisasi ajaran agama (sastra dakwah), sastra untuk penyadaran dan pendorong perbaikan nasib buruh (sastra buruh), atau sastra untuk membangun ideologi politik tertentu (sastra realisme sosial).
Dalam konsepsi Karl Marx dengan Marxismenya, haluan filsafat materialisme dialektika historis merupakan ideologi dan suprastruktur yang berkaitan secara dialektik dan dibentuk dari perjuangan kelas. Daya-daya kekuatan di dalam kenyataan secara meningkat selalu tumbuh untuk menuju kepada sebuah masyarakat yang adil dan terbebaskan, sehingga konsekuensi kontradiksinya adalah karya sastra haruslah merupakan wujud dari penegasan klasnya masing-masing. sedangkan yang menjadi benang merah antara sastra dan penciptaannya adalah bagaimana cara seorang pengarang mengoperasikan haluan filsafat materialism dalam karya sastra.
Dalam menetaskan ide pokok seorang pengarang dalam bentuk karya sastra, tentunya harus disusun dari dan berdasarkan realitas sosial yang tercerabut, kemudian barulah disusun menjadi sebuah komposisi karya sastra yang bulat dan klop. Realitaslah yang menentukan kualitas pukulan karya sastra terhadap masalah-masalah sosial yang terjadi di sekelilingnya, efektif dan tidaknya pukulan tersebut tergantung pada daya jelas dan kemampuan maknanya mengolah konteks (Firman: 2010).
Sebagai sebuah karya sastra tentunya realisme sosialis tidak hanya mencipta karya sastra yang memuat data-data sosial yang kaku, namun selain mutu ideologi, mutu artistik juga tetap menjadi penekanan utama, seperti halnya yang dituduhkan kaum konservatif semasa perang revolusi kemerdekaan Indonesia yakni puisi atau karya-karya yang dicipta melalui pisau realisme sosialis tak lebih hanyalah puisi-puisi pamflet atau setara dengan poster-poster yang ada ditempat-tempat umum. Tuduhan atau cap demikian tentunya tidaklah mendasar sebab seperti pembahasan kita sebelumnya bahwa sekali lagi sastra atau karya sastra haruslah disajikan secara terang, tidak boleh sembunyi-sembunyi dan mengungkapkan makna yang sebenar-benarnya hakikat dari makna.
Unsur imajinasi dalam realisme sosialis disajikan melalui sentuhan-sentuhan halus diksi atau pilihan-pilahan kata yang menggunakan simbol, setting atau latar serta tokoh-tokoh, namun tokoh atau simbol yang dipilih harus mewakili sifat dominan dari karakter atau tempat kejadian tersebut. Sekali lagi tanpa mengurangi makna dari cerita yang disajikan.
Menurut Marx susunan masyarakat dalam bidang ekonomi yang dinamakna bangunan bawah menentukan kehidupan social, politik, intelektual dan cultural bangunan atas. Sejarah dipandang sebagai perkembangan terus menerus; daya- daya kekuatan di dalam kenyataan secar progresif mereka dan ini semuanya menuju masyarakat yang ideal tanpa kelas. Dalam teori ekonominya Marx terutama menerangkan, bagaimana pertentangan antara kelas borjuis dan proletar yang jaya akan melaksanakan masyarakat tanpa kelas. Bagi Marx sastra sama dengan gejala-gejala lainnya mencerminkan hubungan ekonomi, sebuah karya sastra hanya dapat dimengerti kalau itu tidak dikaitkan dengan hubungan-hubungan tersebut (Bunga Api: 2009).
Perhatian Marx terhadap sastra dapat dilihat dari surat-surat serta karangannya yang tanpak betapa Marx menghargai sebuah lukisan mengenai kenyataan masyarakat di dalam sastra yang sesuai dengan contahnya, namaun ia juga tidak buta terhadap nilai-nilai sastra. Ia menolak pandangan determinisik yang sempit, seloah-olah perubahan dalam bangunan atas langsung diakibatkan oleh perubahan bangunan bawah. (saraswati, 2003:37-38). Pendapat Marx dalam sastra yang masih abstrak di atas diuraikan lebih lanjut oleh Engels. Menurut Engels sastra adalah cermin pemantul proses social (Bunga Api: 2009).
Marx juga memandanga karya sastra seperti karya-karya Shakespeare yang menjelaskan tentang esensi uang. Uang adalah wacana tak selesai untuk memperkarakan kehidupan manusia modern. Uang sebagai benda, kata, dan makna terus jadi kuasa untuk mengantarkan manusia pada permainan-permainan hidup dalam seribu satu risiko. Pengenalan manusia modern terhadap uang menjadi absorsi dan internalisasi untuk melakoni hidup dengan konstitusi atas nama nilai dan kompensasi.
Uang mengantarkan peradaban manusia pada pertaruhan ekonomi modern secara sistemik. Efek pertaruhan itu meluber dalam lakon politik, spiritualitas, sosial, pendidikan, dan kultural. Uang menjelma monster dengan sabda-sabda untuk memberi instruksi dan sanksi. Manusia-manusia modern jadi tokoh-tokoh dalam lakon fiksi modern karena uang telah mengaburkan fakta-fakta dalam nalar tradisional. Fiksi mutakhir adalah pembenaran uang dalam konstruksi nalar modern dengan penentuan tema, alur, dan latar.
Karl Marx dengan satire mengungkapkan uang adalah dewa. Uang telah menjadi penguasa manusia dan alam. Uang menjelma pusat dari nilai segala sesuatu. Uang telah merampas dunia dari tatanan kosmis yang mengacu pada norma spiritualitas dan kultural menuju ke tatanan ekonomi dan politik yang materialistik. Karl Marx pun menilai uang sebagai esensi alineatif dari eksistensi manusia dan laku kerja untuk hidup. Uang justru menemukan eksistensi dalam iman manusia karena ritual pemujaan dalam mekanisme produksi dan konsumsi.
Pandangan itu muncul dari lakon peradaban manusia modern dengan pemahaman uang sebagai dewa atau pusat. Fakta-fakta modernitas jadi ”fiksi realisme” atau ”fiksi absurd” karena kuasa uang. Georg Simmel memberi penjelasan lanjutan bahwa uang memang jadi pokok dan tokoh dalam modernitas.Kota adalah tempat modernitas dipusatkan dan diintensifkan. Uang adalah sebab untuk sebaran kuasa modernitas. Uang adalah lambang dan metafora yang terus mendapati terjemahan dan realisasi untuk lakon konstruktif atau destruktif.
Wacana uang di Eropa mendapat perhatian dari kalangan studi filsafat, sosiologi, ekonomi, politik, teologi, seni, dan sastra. Pelbagai pembacaan dan penilaian terhadap uang menjadi prosedur legitimasi uang dalam lakon manusia modern. Uang jadi dalil untuk alienasi, hedonisme, perbankan, kapitalisme, pasar bebas, revolusi, pasar modal, asuransi, dan globalisasi. Legitimasi uang pun menampakkan pengaruh pada laku spiritual, olah estetika, interaksi sosial, dan operasionalisasi demokrasi.
Uang dalam wacana-wacana kritis memang jadi momok untuk berkah atau kutukan. Pemahaman uang secara kuantitatif dan kualitatif lalu memunculkan kontradiksi-kontradiksi dilematis. Uang menjadi tukang sulap untuk manusia modern melakoni hidup sebagai fakta atau fiksi. Pembedaan rasionalitas dan irrasionalitas semakin tak mempan ketika uang menjebol definisi dan tafsir atas peradaban modern. Uang bisa menjelma dewa kapitalisme, spiritualisasi ekonomi, lokomotif politik, sakralitas prestise, mistik sosial, aktor seni populer, atau iblis kemiskinan.
Membaca dan menilai uang dalam garapan sastra tentu jadi tindakan reflektif untuk memahami resepsi manusia-manusia modern terhadap uang. Sastra memang pewartaan dalam bentuk dokumentasi fragmen-fragmen historis, sosiologis, etis, teologis, dan estetis. Sastra pun memiliki orientasi untuk memuat nubuat atas kondisi manusia dan peradaban modern dalam kuasa uang. Sastra memberi warta reflektif ketimbang analisis ekonomi atau sosiologi dengan suguhan data dan tafsir-tafsir ilmiah dan rasional (Mawardi 2010).

2 Responses to "Pandangan Karl Marx Tentang Karya Sastra"

  1. assalamualaikum
    kunjungan balok sodara ku
    hhehehe salam kenal dari tetangga ta di http://andi-iccank.com

    BalasHapus
  2. Ane paling benci tu yg namanya kark mark,,,btw,ada AWARD lagi ne untukmu sobat,mohon untuk sudi kiranya menerima Awardnya ya

    BalasHapus

Silahkan beri komentar dan jangan komentar spam ya. thanks :)